17 Kalimat Yang Harus dihindari Orang Tua dalam Mendidik Anak

17 Kalimat Yang Harus dihindari Orang Tua dalam Mendidik Anak. Bukan perkara yang mudah dalam memilih sebuah kata ataupun sebuah kalimat untuk diucapkan kepada buah hati kita. Lidah tak bertulang begitu mudahnya mengungkapkan kebiasaan yang setiap hari kita ucapkan. Namun disisi lain seorang anak adalah dampaan masa depan yang harus kita pupuk sejak masih dalam kandungan. Memilih dan memilah ka-katapun seharusnya kita mualai sejak dalam masa kandungan agar kelak anak kita dapat kita didik dan diarahkan dengan baik mulai dari lingkungan keluarga.

Pentingnya memilih dan memilah kata ini dikareakan sebuah lata-kata yang dideangar oleh anak kita akan menjadikan sebagai bahan pengetahuan yang akan mempengaruhi tumbuh kembangnya. Agar kita sebagi orang tau lebih dalam kata ataupun kalimat yang harus kita hindari dalam mendidik anak mari kita simak bersama sebagai berikut: 
17 Kalimat Yang Harus dihindari Orang Tua dalam Mendidik Anak

1. “PERGI! MAMA INGIN SENDIRI DULU”

Ketika Anda mengatakan kalimat ini kepada si kecil, Suzette Haden Elgin, Ph.D., pendiri Ozark Center for Language Studies mengatakan bahwa anak akan menginternalisasi kalimat tersebut dan berpikir tidak ada gunanya untuk berusaha berbicara kepada Anda karena mereka selalu diusir. Selain itu, jika Anda terbiasa mengatakan hal ini kepada anak, ketika dewasa ia akan terbiasa pula mengatakan hal yang sama kepada orang lain.

Ketimbang mengucapkan kalimat di atas, Anda bisa menggantinya dengan kata yang membuatnya lebih mengerti. Ketika Anda memang sibuk coba katakan pada anak, “ada yang ibu harus kerjakan dan selesaikan, jadi ibu ingin kamu menggambar dulu sendiri ya beberapa menit. Kalau ibu sudah selesai, ibu akan menyusul”. Anda juga harus realistis, anak-anak yang berusia balita dan pre school tidak bisa membuat diri mereka sendiri tenang selama beberapa jam

2. “KAMU ITU…”

Memberikan label adalah jalan pintas untuk mengubah anak-anak. Jika Anda mengatakan “kamu itu memang pemalas,” maka ia akan ikut melabeli dirinya secara tidak langsung dan menganggap dirinya memang pemalas dan tidak ada yang dapat diubah. Jika kita memberikan label yang buruk kepada anak seperti bodoh, nakal, dan sebagainya, maka hal tersebut akan terus melekat dan bisa saja menjadi identitas dirinya yang ia internalisasi hingga dewasa.

Sebaliknya, jika Anda mengatakan “kamu anak yang pintar,” ia akan mengira Anda memiliki ekspektasi yang besar untuknya dan hal tersebut tentu saja dapat menjadi suatu beban tersendiri baginya. Jika Anda ingin untuk mengubah tingkah laku si kecil, lebih baik katakan secara jelas dan spesifik apa yang sebaiknya ia lakukan dan apa yang sebaiknya tidak ia lakukan tanpa memberi label untuknya.

3. “JANGAN MENANGIS”

“Jangan sedih!,” atau “jangan seperti anak kecil” merupakan variasi lain dari kalimat di atas. Jika Anda perhatikan, anak-anak belum bisa menyalurkan emosinya melalui kata-kata. Mereka tertawa ketika mereka senang, dan sudah pasti mereka menangis jika mereka sedih. Hal tersebut merupakan hal yang lumrah.

“Sebenarnya, wajar bila orang tua tidak ingin anaknya merasa sedih atau menangis. Tetapi, dengan mengatakan “jangan” dan “tidak” kepada anak tidak akan membuat anak tersebut merasa lebih baik. Bahkan, hal tersebut akan menimbulkan kesan bahwa emosi mereka tidak benar dan tidak baik untuk merasa sedih atau takut,” kata Debbie Glasser, Ph.D., direktur dari Family Support Services di Nova Southeastern University, Florida, Amerika Serikat.

Daripada Anda memintanya jangan menangis, cobalah pahami emosi atau kesedihannya. “Ibu tahu kamu takut sekolah tidak ditemani ibu. Tapi di sana ada ibu guru yang bisa jadi pengganti ibu sebentar dan ada teman-teman kamu. Kalau kamu masih takut, ibu selalu ada di luar dan kamu bisa bertemu aku kapanpun kamu mau. Ibu janji nggak akan ninggalin kamu sendirian”.

Dengan memahami kesedihannya, Anda bisa memberinya contoh bagaimana mengekspreksikan perasaannya. Anda juga menunjukkan padanya bagaimana bersikap empati. Di kemudian hari, anak pun jadi tidak lagi terlalu sering menangis dan bisa mengekspreksikan kesedihannya.

4. “KENAPA KAMU TIDAK SEPERTI DIA?”

Wajar bagi orang tua untuk membanding-bandingkan si kakak dengan si adik, atau membandingkan anak dengan temannya yang lain. Tapi, membanding-bandingkan anak Anda bukanlah cara yang efektif untuk mengubah perilakunya. Anak memiliki fase tersendiri untuk belajar, memiliki temperamennya masing-masing, juga kepribadiannya yang pasti berbeda antara satu dengan yang lainnya.

Membandingkan anak Anda akan menyiratkan bahwa Anda ingin ia tidak menjadi dirinya sendiri dan hal tersebut justru malah akan menyakiti hatinya. Selain itu, membanding-bandingkan anak juga dapat merusak kepercayaan dirinya. Lebih baik, berikan apresiasi dan pujian atas tingkah lakunya yang Anda sukai agar dapat mendorongnya untuk melakukan hal tersebut kembali

5. “LHO, HANYA BEGINI HASILNYA?”

Sama seperti membanding-bandingkan, anak Anda juga pasti akan tersakiti hatinya jika Anda mengatakan kalimat tersebut kepadanya. Belajar adalah suatu proses untuk mencoba dan melakukan kesalahan hingga anak Anda akhirnya berhasil untuk menguasai suatu hal. Kalimat ini tidak akan menyemangatinya untuk terus menguasai hal tersebut, malah hanya akan menyakitinya dan membuatnya malas untuk kembali belajar.

Jika anak Anda terus melakukan kesalahan, memberikan semangat dengan berkata “sepertinya akan lebih baik jika kamu menyelesaikannya dengan cara seperti ini,” akan lebih memotivasinya dibandingkan dengan terus mengejeknya.

6. “BERHENTI, ATAU…”

Kalimat di atas merupakan salah satu bentuk ancaman. Jika Anda sering mengatakan ini kepada anak, cepat atau lambat ancaman ini tidak akan berpengaruh lagi terhadap anak dan bahkan anak akan menganggap ancaman sebagai suatu hal yang biasa. “Hasil riset menunjukkan bahwa, 80% anak dua tahun akan mengulangi kesalahan yang sama yang dilakukannya hari ini, keesokan harinya, tak peduli disiplin seperti apa yang Anda terapkan,” kata Murray Straus, Ph.D., seorang sosiolog di University of New Hampshire.

Jadi sebaiknya Anda tidak lagi memberinya ancaman. Akan lebih efektif untuk menerapkan taktik misalnya memberikan anak arahan yang sama, menjauhkan anak dari situasi serupa atau memberinya time-out.

7. “TUNGGU SAMPAI MAMA PULANG KE RUMAH!”

Ini adalah salah satu bentuk lain dari ancaman. Akan tetapi, ancaman seperti ini akan lebih tidak efektif karena jika anak melakukan suatu kesalahan, sebaiknya Anda menanganinya secara langsung dan secepat mungkin sehingga tidak ada penundaan. Selain itu, bisa jadi setelah Anda pulang, anak Anda telah melupakan kesalahannya. Hal lain yang membuat ancaman tersebut kurang efektif adalah anak Anda yang akan lebih berfokus kepada cara untuk mencegah hukuman daripada fokus terhadap tingkah lakunya yang salah apabila Anda melakukan penundaan dalam menangani tingkah lakunya.

8. “AYO, CEPAT!”

Anda pasti akan merasa stres saat terlambat bangun pagi, jalanan macet, kurang tidur, atau memiliki banyak pekerjaan di kantor yang harus Anda selesaikan segera. Anda pun kemudian meminta si kecil untuk buru-buru agar Anda tidak terlambat. Jika Anda kerapkali mengeluh, mendesah, atau bahkan merengek agar anak buru-buru sebaiknya Anda perlu berhati-hati. Hal tersebut cenderung menimbulkan perasaan bersalah pada anak, akan tetapi tidak membuat mereka termotivasi untuk bergerak lebih cepat.

9. “HEBAT! ATAU “ANAK BAIK!”

Memang, tidak ada salahnya untuk memuji anak Anda. Tapi kesalahan dari suatu pujian adalah ketika pujian berlebihan diberikan untuk tingkah laku anak yang biasa saja. Misalnya, kalimat seperti “wah, kamu sangat hebat!,” dilontarkan kepada anak yang telah terbiasa menghabiskan susunya setiap hari, akan menjadi kurang berarti.

Anak-anak dapat membedakan mana pujian yang dilontarkan untuk sesuatu yang sederhana, dan pujian untuk suatu tingkah lakunya yang memerlukan usaha lebih. Lebih baik, berikan pujian untuk usaha keras yang telah anak Anda lakukan seperti menyelesaikan pekerjaan rumah yang sulit, atau pada hal yang jarang anak Anda lakukan tetapi sekarang ia berhasil melakukannya. Pujian yang spesifik membuat anak lebih termotivasi untuk melakukan tingkah laku tersebut.

10. “INI BUKAN URUSAN ANAK KECIL”

Anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar. Namun, hindarilah kalimat tersebut bila Anda tidak ingin si Kecil mengetahui hal yang belum layak ia ketahui. Jelaskan dengan cara yang cerdas tanpa menekankan bahwa mereka masih kecil.

Tahukah Anda, rata-rata anak kecil sangat ingin menjadi besar, alias seperti orang dewasa! Biarkan mereka merasa dirinya sudah lebih besar, dan hal ini akan memudahkan kita untuk mengajarkan rasa tanggung jawab kepada mereka

11. “NANTI AYAH/IBU TIDAK SAYANG LAGI YA!”

Semua kalimat ancaman tidak baik untuk mereka, apalagi mengancam tidak sayang lagi kepada mereka. Mereka dapat mengingat kalimat ini hingga dewasa, walaupun saat ini masih balita. Selain itu, kita tentu ingin mereka berperilaku baik tanpa disebabkan oleh rasa takut bukan?

12. “TERSERAH KAMU, DEH! MAMA NGGAK MAU TAHU.”

Ketika orang tua melontarkan jawaban ini, maka secara tak sadar orang tua sebenarnya sudah membuat anak merasa bersalah terhadap pilihan yang sudah ia tentukan. Seakan pilihan anak yang kurang tepat dan akan membuat anak kurang percaya diri.

13. “POKOKNYA KAMU HARUS MENURUT KATA MAMA, TITIK!”.

Kalimat ini menegaskan bahwa terdapat posisi yang tidak seimbang dalam keluarga. Seakan orang tualah pemilik otoritas yang tidak bisa terbantahkan.

Hal ini akan membuat anak merasa kecil dan tidak memiliki kepercayaan diri untuk mengungkapkan pendapatnya pada kesempatan yang lain.

14. “DIAM, JANGAN MEMBANTAH MAMA!”

Ini yang kerapkali muncul. Memang ia tidak akan membantah pada kesempatan lain, namun penghayatan yang ia peroleh adalah “percuma berargumen dengan mama”.

Akan menimbulkan sikap pasrah pada anak, hanya mengikuti saja. Hal ini merupakan kematian awal dari sebuah inisiatif yang mulai ditanamkan tanpa disadari.

15. “KAMU INI NGGAK PERNAH DENGERIN KATA MAMA! , SUKANYA MEMBANTAH TERUS!”

Kalimat ini merupakan contoh pelabelan yang secara tak sadar terlontarkan buat buah hati. Ia akan merasa bahwa dirinya adalah anak yang bandel yang tidak pernah mendengar perkataan orang tuanya. 

16. “KAMU SELALU….” ATAU “KAMU TIDAK PERNAH…”.

Kalimat tersebut memang kerapkali diucapkan orangtua secara refleks. Akan tetapi ada baiknya jika penggunaan kalimat tersebut dihindari.

“Hati-hati, kedua kata-kata itu ada makna di dalamnya. Di dalam pernyataan “Kamu selalu…” dan “Kamu tidak pernah” adalah label yang bisa melekat selamanya di dalam diri anak,” ujar Jenn Berman PhD, seorang psikoterapis.

Tak hanya itu, Berman juga melanjutkan bahwa jika kedua kalimat tersebut sering dilontarkan oleh orangtua kepada anaknya, maka akan membentuk kepribadian si kecil. Anak-anak akan menjadi seperti yang dikatakan terhadap dirinya

“Sebaliknya, bertanyalah kepada anak tentang apa yang bisa Anda lakukan untuk membantu dia mengubah kebiasaannya. Misalnya, ‘Kalau diperhatikan kamu sering lupa membawa pulang buku pelajaran ke rumah. Apa yang bisa Ibu bantu supaya kamu ingat untuk membawa bukumu pulang?’. Pernyataan seperti itu akan membuat anak merasa terbantu dan nyaman,” jelas dr Berman

17. “BUKAN BEGITU CARANYA. SINI, BIAR AYAH/IBU SAJA.”

Biasanya orangtua mengeluarkan kalimat tersebut jika mereka meminta tolong kepada si kecil untuk membantu melakukan sesuatu, namun si kecil tidak melakukannya seperti yang kita inginkan.

Dr Berman mengatakan bahwa hal itu adalah salah atau sebuah (kesalahan), karena si kecil menjadi tidak bisa belajar bagaimana caranya melakukan hal seperti yang kita inginkan.

Nah, dibandingkan kita mengatakan hal tersebut, sebaiknya kita melakukan langkah kolaboratif dengan mengajak anak melakukan pekerjaan tersebut bersama-sama sembari kita menjelaskan bagaimana cara yang benar untuk melakukannya.

0 Response to "17 Kalimat Yang Harus dihindari Orang Tua dalam Mendidik Anak"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel