Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Contoh Soal AKM Kelas 5 SD Literasi Lengkap dengan Pembahasan

Contoh Soal AKM Kelas 5 SD Literasi Lengkap dengan Pembahasan

Dokumen Guru. Contoh Soal AKM Kelas 5 SD Literasi Lengkap dengan Pembahasan. Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) merupakan penilaian kompetensi mendasar yang diperlukan oleh semua murid untuk mampu mengembangkan kapasitas diri dan berpartisipasi positif pada masyarakat. Terdapat dua kompetensi mendasar yang diukur AKM: literasi membaca dan literasi matematika (numerasi). Baik pada literasi membaca dan numerasi, kompetensi yang dinilai mencakup keterampilan berpikir logis-sistematis, keterampilan bernalar menggunakan konsep serta pengetahuan yang telah dipelajari, serta keterampilan memilah serta mengolah informasi. AKM menyajikan masalah-masalah dengan beragam konteks yang diharapkan mampu diselesaikan oleh murid menggunakan kompetensi literasi membaca dan numerasi yang dimilikinya. AKM dimaksudkan untuk mengukur kompetensi secara mendalam, tidak sekedar penguasaan konten.

Literasi membaca didefinisikan sebagai kemampuan untuk memahami, menggunakan, mengevaluasi, merefleksikan berbagai jenis teks tertulis untuk mengembangkan kapasitas individu sebagai warga Indonesia dan warga dunia dan untuk dapat berkontribusi secara produktif kepada masyarakat.

[www.dokumenguru.com] Contoh Soal AKM Kelas 5 SD Literasi Lengkap dengan Pembahasan
Soal AKM Kelas 5 SD Literasi

Contoh Soal AKM Kelas 5 SD Literasi Lengkap dengan Pembahasan

Topik : Literasi
Subtopik : Teks Informasi
Level Kognitif : HOTS

1. Perhatikan ilustrasi dan artikel berikut!

Anton mendapat tugas dari gurunya untuk membuat sebuah kerajinan. Kerajinan yang dibuat harus memiliki tema “Lingkungan Hidup”. Kemudian, Anton mencari ide dengan cara membaca berbagai berita mengenai lingkungan Hidup. Anton pun menemukan berita berikut.

Parahnya Masalah Sampah Plastik di Indonesia

Masalah sampah plastik di Indonesia kembali menjadi sorotan publik. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Jenna R. Jambeck dari University of Georgia, pada tahun 2010, ada 275 juta ton sampah plastik yang dihasilkan di seluruh dunia. Di antara jutaan ton sampah tersebut, sekitar 4,8 hingga 12,7 juta ton terbuang ke laut dan mencemari laut.

Di Indonesia, ada sekitar 3,22 juta ton sampah plastik yang tak terkelola dengan baik. Sekitar 0,48 hingga 1,29 juta ton dari sampah plastik tersebut diduga mencemari lautan. Hal itu menjadikan Indonesia sebagai negara dengan jumlah pencemaran sampah plastik ke laut terbesar kedua di dunia.

Padahal, jumlah penduduk pesisir Indonesia hampir sama dengan India, yaitu 187 juta jiwa. Namun, tingkat pencemaran plastik ke laut di India hanya sekitar 0,09 - 0,24 juta ton per tahun dan India menempati urutan ke-12 sebagai negara dengan jumlah pencemaran sampah plastik ke laut terbesar di dunia. Jika dibandingkan dengan India, dimungkinkan bahwa sistem pengelolaan sampah di Indonesia masih belum optimal.

Tak hanya itu, pencemaran plastik di Indonesia pun diperkirakan akan terus meningkat. Hal itu dapat terjadi karena saat ini, industri-industri minuman di Indonesia tumbuh dengan pesat. Padahal, banyak produk minuman yang menggunakan plastik sekali pakai sebagai packaging. Pertumbuhan industri minuman yang sangat pesat tentu saja akan menghasilkan pertumbuhan jumlah sampah plastik yang semakin banyak. Terlebih, saat ini kapasitas pengolahan limbah plastik masih terbilang minim.  
(Diadaptasi dari https://www.cnbcindonesia.com/ pada Oktober 2020)

Berdasarkan berita tersebut, untuk mengurangi tingkat pencemaran plastik, peran apa yang dapat kamu lakukan sebagai siswa?
a. Membuat minuman berkemasan plastik secara pribadi.
b. Membuat aturan mengenai larangan membuang sampah plastik.
c. Tidak membuang sampah sembarangan.
d. Membuang seluruh plastik yang dimiliki agar tidak menjadi sampah.
Kunci Jawaban: c

Topik : Literasi
Subtopik : Teks Sastra
Level Kognitif : HOTS

2. Perhatikan cerita berikut!

Capung Kuning Rara
Karya: Sopiani

Aku berlari ke deretan pohon jagung. Di sana, kulihat banyak capung hijau dan capung kuning beterbangan. Aku sangat suka capung. Mereka adalah binatang kecil yang dapat terbang dan memiliki banyak warna, seperti kuning, hijau, dan merah. Aku pun menemukan beberapa capung yang sedang hinggap di rerumputan. Hati-hati kudekati capung-capung itu dan kuarahkan saringan yang kubawa untuk menangkapnya. Kugerakkan tanganku pelan-pelan dan kuhitung dalam hati, satu, dua, tiga! Ah, sayangnya percobaan pertamaku gagal.

Kuulangi lagi langkah-langkah untuk menangkap capung sampai akhirnya kudapatkan seekor capung dalam saringanku. Aku pun bersorak bahagia karena berhasil menangkap capung. Apalagi, itu adalah capung berwarna kuning. Kupandangi cukup lama gerak-gerik capung kuning itu dan kubuka saringannya. Setelah itu, kubiarkan capung kuning itu untuk terbang bebas lagi. Keharusan melepaskan capung setelah menangkapnya adalah pesan yang selalu dikatakan Ibu kepadaku. Wanita yang paling kusayang itu mengatakan bahwa aku tidak boleh menyakiti binatang. Menangkap capung dan membawanya ke rumah hanya akan menyakiti dan membunuh capung tersebut.

Setelah kulepaskan, capung kuning itu terbang tinggi melewati tingginya pepohonan jagung, kepalaku pun mendongak ke atas untuk melihat capung itu terbang berputar-putar sampai akhirnya capung itu tiba di depan kepalaku. Aku merasa ada yang salah saat aku melihat capung kuning itu. Tiba-tiba, capung kuning yang kulihat tadi pelan-pelan bertambah besar, bahkan besarnya melebihi ukuran tubuhku. Aku terkejut dan ketakutan melihat capung kuning itu. Sampai akhirnya, terdengar suara yang berbicara kepadaku.

“Jangan takut, Rara. Namaku Caca, capung yang kamu tangkap tadi.”

“Ke ... ke ... kenapa kamu bisa jadi besar seperti ini, Capung?” Aku pun menjawab terbata-bata.

“Aku hanya ingin berteman denganmu, Rara. Aku sudah beberapa kali melihatmu. Kamu adalah anak yang baik. Kamu mau ikut terbang bersamaku, Rara?”

“Terbang? Apakah kamu bisa membawaku terbang, Capung?”

“Tentu, aku akan memperlihatkan padamu indahnya kebun dan sawah dari atas. Naiklah ke punggungku, Rara. Oh iya, panggil saja aku Caca.”

Aku pun naik ke punggung Caca, capung kuning yang kutangkap tadi. Pelan-pelan, Caca mulai mengepakkan sayapnya dan kami pun mulai menjauh dari permukaan tanah. Tidak kusangka, kini aku berada di udara. Pepohonan tinggi yang kulihat tadi, kini ada di bawahku. Kebun, sawah, dan pepohonan kini terlihat sangat kecil, tetapi sangat indah dipandang.

“Kamu menyukai pemandangan dari atas sini kan, Rara?”

“Iya, aku suka sekali, Caca. Aku tidak percaya kalau sekarang aku sedang terbang. Semuanya nampak indah.”

“Dahulu, pemandangannya bahkan lebih indah dari ini, Rara. Lebih banyak pepohonan dan berbagai jenis rerumputan, juga bunga-bunga yang indah bermekaran. Burung-burung dan binatang-binatang kecil pun jauh lebih banyak dan beragam daripada sekarang.”

“Wah, mengapa sekarang jadi berbeda, Caca? Apa penyebabnya?”

“Akhir-akhir ini banyak sekali orang yang merusak alam. Mereka dengan mudah menebang hutan sembarangan dan memburu binatang. Coba lihat ke bawah, Rara. Di sana ada beberapa anak yang sedang bermain. Tapi, sayangnya anak-anak itu bermain dengan memetik bunga dan dedaunan sembarangan.”

“Iya, aku melihatnya. Bagaimana kalau kita temui sebentar anak-anak itu?”

Caca pun mengikuti ajakan Rara. Mereka mendarat di sebuah kebun tempat beberapa anak sedang bermain.

“Halo, teman-teman, mengapa kalian memetik bunga-bunga dan dedaunan di kebun dengan sembarangan?”

“Siapa kamu, mengapa kamu tiba-tiba memarahi kami?” ucap seorang anak lelaki yang sebaya dengan Rara.

“Aku Rara dan aku tidak bermaksud memarahi kalian. Aku hanya bertanya dan ingin mengingatkan kalian untuk lebih menjaga tanaman-tanaman ini.”

“Kami hanya bermain sambil berjalan-jalan. Kami sangat menyukai tanaman di sini sehingga ingin memetiknya,” ucap seorang anak perempuan yang paling tinggi di antara mereka.

“Wah, aku pun sama seperti kalian. Aku sangat menyukai tanaman-tanaman yang ada di sini. Tetapi, apabila kita menyukai sesuatu, kita harus menjaga dan merawatnya. Sementara, memetik bunga dan dedaunan tidak akan membuat tanaman ini terjaga dan terawat, tetapi malah akan menyakitinya.”

“Mengapa tanaman-tanaman ini bisa tersakiti kalau kami memetiknya?” tanya anak lelaki tadi.

“Teman-teman, tanaman ini sama seperti kita, memiliki bagian-bagian yang saling membutuhkan. Misalnya pada tubuh kita, apabila ada satu bagian yang tidak ada, tubuh kita tidak akan berfungsi dengan sempurna. Tanaman ini pun demikian. Apabila kita memetik bunga atau daunnya sembarangan, proses pertumbuhan tanaman ini pun akan terganggu.”

Anak-anak yang sedang bermain itu tampak memikirkan kata-kata Rara dengan serius. Seorang anak perempuan berbaju merah muda berkata, “Kami mengerti maksudmu, Rara. Kalau memetik bunga dan dedaunan malah menyakiti tanaman-tanaman ini, kami tidak akan melakukannya. Kami sangat menyukai tanaman di sini dan tidak ingin menyakiti mereka. Sekarang, kami tidak akan memetik bunga dan dedaunan dengan sembarangan lagi. Betul, kan, teman-teman?”

“Iya, betul!” serentak anak-anak itu menjawab.

“Terima kasih, teman-teman. Semoga kita dapat selalu menjaga dan merawat kelestarian tanaman-tanaman yang ada di sini, yah.”

Rara meninggalkan anak-anak tersebut dan kembali menemui Caca.

“Terima kasih karena sudah menyayangi tanaman-tanaman yang ada di sini, Rara.”

“Sama-sama, Caca. Aku sangat menyukai tanaman dan bintang sepertimu. Aku tidak ingin kalian disakiti dan sampai punah. Aku ingin bisa terus bertemu kalian. Maukah kamu bertemu lagi denganku dan menjadi sahabatku, Caca?”

“Tentu saja, Rara. Nanti kita bertemu dan terbang lagi untuk melihat lebih banyak keindahan alam.”

“Wah, senangnya. Aku berjanji akan merawat dan menjaga keindahan alam ini dengan baik dan tidak akan menyakitinya.”

Rara dan Caca kini menjadi teman baik yang selalu memperhatikan dan menjaga kelestarian alam.

Berdasarkan teks tersebut, orang yang menasihati Rara untuk tidak menyakiti binatang adalah ....
Catatan: Hanya diisi dengan huruf saja (contoh: Rara)
Kunci Jawaban: Ibu
 
Topik : Literasi
Subtopik : Teks Informasi
Level Kognitif : HOTS

3. Perhatikan ilustrasi dan teks berikut!

Aulika memiliki hobi memasak. Kali ini, ia akan mencoba membuat kue. Ketika mengecek kembali resep dan bahan-bahan yang telah disiapkan, ternyata sebelumnya Aulika salah membaca resep. Pada resep, tertera aturan ½ sendok teh baking powder, sedangkan ia malah menyiapkan baking soda. Aulika takut kue buatannya gagal jika ia mengganti baking powder dengan baking soda. Akhirnya, Aulika mencoba membuka laman Pasti Bisa Masak yang memberi tahu resep kue yang akan dibuatnya. Laman tersebut memuat banyak informasi mengenai resep masakan. Selain itu, terdapat forum diskusi yang akan membantu Aulika menjawab keraguannya akan perbedaan baking powder dengan baking soda.
Aulika mendapat tanggapan dari beberapa orang tentang masalahnya. Berikut adalah laman Pasti Bisa Masak.

Setelah membaca bacaan Forum Pasti Bisa Masak di atas, menurutmu siapakah yang memberikan jawaban yang paling bisa dipercaya untuk pertanyaan Aulika_handayani? Berikan penjelasan dan bukti spesifik untuk mendukung pendapatmu dengan menempatkan alasan-alasan ke dalam kotak yang tersedia!

Kunci jawaban:
Topik : Literasi
Subtopik : Teks Sastra
Level Kognitif : HOTS

4. Perhatikan cerita berikut!

Capung Kuning Rara
Karya: Sopiani


Aku berlari ke deretan pohon jagung. Di sana, kulihat banyak capung hijau dan capung kuning beterbangan. Aku sangat suka capung. Mereka adalah binatang kecil yang dapat terbang dan memiliki banyak warna, seperti kuning, hijau, dan merah. Aku pun menemukan beberapa capung yang sedang hinggap di rerumputan. Hati-hati kudekati capung-capung itu dan kuarahkan saringan yang kubawa untuk menangkapnya. Kugerakkan tanganku pelan-pelan dan kuhitung dalam hati, satu, dua, tiga! Ah, sayangnya percobaan pertamaku gagal.

Kuulangi lagi langkah-langkah untuk menangkap capung sampai akhirnya kudapatkan seekor capung dalam saringanku. Aku pun bersorak bahagia karena berhasil menangkap capung. Apalagi, itu adalah capung berwarna kuning. Kupandangi cukup lama gerak-gerik capung kuning itu dan kubuka saringannya. Setelah itu, kubiarkan capung kuning itu untuk terbang bebas lagi. Keharusan melepaskan capung setelah menangkapnya adalah pesan yang selalu dikatakan Ibu kepadaku. Wanita yang paling kusayang itu mengatakan bahwa aku tidak boleh menyakiti binatang. Menangkap capung dan membawanya ke rumah hanya akan menyakiti dan membunuh capung tersebut.

Setelah kulepaskan, capung kuning itu terbang tinggi melewati tingginya pepohonan jagung, kepalaku pun mendongak ke atas untuk melihat capung itu terbang berputar-putar sampai akhirnya capung itu tiba di depan kepalaku. Aku merasa ada yang salah saat aku melihat capung kuning itu. Tiba-tiba, capung kuning yang kulihat tadi pelan-pelan bertambah besar, bahkan besarnya melebihi ukuran tubuhku. Aku terkejut dan ketakutan melihat capung kuning itu. Sampai akhirnya, terdengar suara yang berbicara kepadaku.

“Jangan takut, Rara. Namaku Caca, capung yang kamu tangkap tadi.”

“Ke ... ke ... kenapa kamu bisa jadi besar seperti ini, Capung?” Aku pun menjawab terbata-bata.

“Aku hanya ingin berteman denganmu, Rara. Aku sudah beberapa kali melihatmu. Kamu adalah anak yang baik. Kamu mau ikut terbang bersamaku, Rara?”

“Terbang? Apakah kamu bisa membawaku terbang, Capung?”

“Tentu, aku akan memperlihatkan padamu indahnya kebun dan sawah dari atas. Naiklah ke punggungku, Rara. Oh iya, panggil saja aku Caca.”

Aku pun naik ke punggung Caca, capung kuning yang kutangkap tadi. Pelan-pelan, Caca mulai mengepakkan sayapnya dan kami pun mulai menjauh dari permukaan tanah. Tidak kusangka, kini aku berada di udara. Pepohonan tinggi yang kulihat tadi, kini ada di bawahku. Kebun, sawah, dan pepohonan kini terlihat sangat kecil, tetapi sangat indah dipandang.

“Kamu menyukai pemandangan dari atas sini kan, Rara?”

“Iya, aku suka sekali, Caca. Aku tidak percaya kalau sekarang aku sedang terbang. Semuanya nampak indah.”

“Dahulu, pemandangannya bahkan lebih indah dari ini, Rara. Lebih banyak pepohonan dan berbagai jenis rerumputan, juga bunga-bunga yang indah bermekaran. Burung-burung dan binatang-binatang kecil pun jauh lebih banyak dan beragam daripada sekarang.”

“Wah, mengapa sekarang jadi berbeda, Caca? Apa penyebabnya?”

“Akhir-akhir ini banyak sekali orang yang merusak alam. Mereka dengan mudah menebang hutan sembarangan dan memburu binatang. Coba lihat ke bawah, Rara. Di sana ada beberapa anak yang sedang bermain. Tapi, sayangnya anak-anak itu bermain dengan memetik bunga dan dedaunan sembarangan.”

“Iya, aku melihatnya. Bagaimana kalau kita temui sebentar anak-anak itu?”
Caca pun mengikuti ajakan Rara. Mereka mendarat di sebuah kebun tempat beberapa anak sedang bermain.

“Halo, teman-teman, mengapa kalian memetik bunga-bunga dan dedaunan di kebun dengan sembarangan?”

“Siapa kamu, mengapa kamu tiba-tiba memarahi kami?” ucap seorang anak lelaki yang sebaya dengan Rara.

“Aku Rara dan aku tidak bermaksud memarahi kalian. Aku hanya bertanya dan ingin mengingatkan kalian untuk lebih menjaga tanaman-tanaman ini.”

“Kami hanya bermain sambil berjalan-jalan. Kami sangat menyukai tanaman di sini sehingga ingin memetiknya,” ucap seorang anak perempuan yang paling tinggi di antara mereka.

“Wah, aku pun sama seperti kalian. Aku sangat menyukai tanaman-tanaman yang ada di sini. Tetapi, apabila kita menyukai sesuatu, kita harus menjaga dan merawatnya. Sementara, memetik bunga dan dedaunan tidak akan membuat tanaman ini terjaga dan terawat, tetapi malah akan menyakitinya.”

“Mengapa tanaman-tanaman ini bisa tersakiti kalau kami memetiknya?” tanya anak lelaki tadi.

“Teman-teman, tanaman ini sama seperti kita, memiliki bagian-bagian yang saling membutuhkan. Misalnya pada tubuh kita, apabila ada satu bagian yang tidak ada, tubuh kita tidak akan berfungsi dengan sempurna. Tanaman ini pun demikian. Apabila kita memetik bunga atau daunnya sembarangan, proses pertumbuhan tanaman ini pun akan terganggu.”

Anak-anak yang sedang bermain itu tampak memikirkan kata-kata Rara dengan serius. Seorang anak perempuan berbaju merah muda berkata, “Kami mengerti maksudmu, Rara. Kalau memetik bunga dan dedaunan malah menyakiti tanaman-tanaman ini, kami tidak akan melakukannya. Kami sangat menyukai tanaman di sini dan tidak ingin menyakiti mereka. Sekarang, kami tidak akan memetik bunga dan dedaunan dengan sembarangan lagi. Betul, kan, teman-teman?”

“Iya, betul!” serentak anak-anak itu menjawab.

“Terima kasih, teman-teman. Semoga kita dapat selalu menjaga dan merawat kelestarian tanaman-tanaman yang ada di sini, yah.”

Rara meninggalkan anak-anak tersebut dan kembali menemui Caca.

“Terima kasih karena sudah menyayangi tanaman-tanaman yang ada di sini, Rara.”

“Sama-sama, Caca. Aku sangat menyukai tanaman dan bintang sepertimu. Aku tidak ingin kalian disakiti dan sampai punah. Aku ingin bisa terus bertemu kalian. Maukah kamu bertemu lagi denganku dan menjadi sahabatku, Caca?”

“Tentu saja, Rara. Nanti kita bertemu dan terbang lagi untuk melihat lebih banyak keindahan alam.”

“Wah, senangnya. Aku berjanji akan merawat dan menjaga keindahan alam ini dengan baik dan tidak akan menyakitinya.”

Rara dan Caca kini menjadi teman baik yang selalu memperhatikan dan menjaga kelestarian alam. Kondisi alam saat ini telah banyak berubah. Alam mulai tercemar dan tidak asri lagi. Banyak binatang dan tumbuhan kini mulai terancam punah. Perubahan tersebut sebagian besar diakibatkan oleh ulah manusia. Sebagai seorang anak, apa pendapatmu mengenai permasalahan tersebut? Selain itu, sebagai seorang siswa dan generasi muda Indonesia, tindakan apa yang akan kamu lakukan agar dapat menjaga kelestarian alam?
Long Answer

Topik : Literasi
Subtopik : Teks Informasi
Level Kognitif : HOTS

5. Perhatikan informasi dalam gambar berikut!


Berdasarkan informasi pada gambar wacana, manakah pernyataan yang sesuai dengan kondisi Taman Nasional Komodo?

Catatan: Jawaban dapat lebih dari satu
  • Taman Nasional Komodo hanya berlokasi utama di Pulau Komodo.
  • Komodo pada dasarnya pemburu pasif yang melumpuhkan mangsa dengan gigitan.
  • Tikus endemik dan rusa timor termasuk jenis fauna di Taman Nasional Komodo.
  • Taman Nasional Komodo diakui sebagai situs warisan dunia oleh UNESCO sekitar 11 tahun setelah didirikan.
Kunci Jawaban: [Pernyataan pertama tidak tepat], [Pernyataan kedua tepat], [Pernyataan ketiga tepat], [Pernyataan keempat tepat]

[PDF] Soal AKM Kelas 5 SD Literasi Lengkap dengan Pembahasan


[PDF] Soal AKM Kelas 5 SD Numerasi Lengkap dengan Pembahasan


Sember:
https://www.kemdikbud.go.id/

Posting Komentar untuk "Contoh Soal AKM Kelas 5 SD Literasi Lengkap dengan Pembahasan"